Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim). Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker.
HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks. Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya namun kadang bisa menjadi infeksi persisten yang dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Yang perlu diketahui mengenai virus HPV:
1. HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual.
2. Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual.
3. HPV dapat bertahan dalam suhu panas.
Bagaimana gejala KANKER SERVIKS?
Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala sedikitpun sehingga penderita masih dapat menjalani kegiatan sehari-hari.
Namun, jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal yang disebut juga sebagai lesi prakanker.
Bila kanker sudah mengalami progresifitas atau stadium lanjut maka gejala-gejala yang dapat timbul antara lain:
- Pendarahan setelah senggama.
- Pendarahan spontan yang terjadi antara periode menstruasi rutin.
- Timbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau.
- Nyeri panggul dan gangguan atau bahkan tidak bisa buang air kecil.
- Nyeri ketika berhubungan seksual.
Jangan tunda untuk menghubungi dokter anda jika Anda menemui gejala tersebut.
Kami berikan SOLUSI PRAKTIS bagi anda untuk mencegah terkena kanker serviks yang bukan melalui hubungan pasutri, dengan Tissue Double Majakani (TDM) produk ISTIMEWA dari Boyke & Co.
Untuk informasi, Klik DISINI
Jumat, 27 Januari 2012
Sabtu, 29 Januari 2011
Ancaman di Balik 'Permak' Payudara
Untuk memperindah payudara, tidak sedikit wanita yang menjalani operasi plastik atau implan payudara. Meski terbilang aman jika dilakukan ahli bedah terpercaya, prosedur ini tetap menyimpan risiko.
Menurut penelitian terbaru terungkap ada risiko baru yang membahayakan akibat menjalani implan payudara. Wanita yang melakukan prosedur ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker langka di sekitar silikon payudara mereka.
Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat dalam laporannya menyebutkan, wanita dengan payudara yang dipermak lebih berisiko terkena kanker payudara langka. Badan ini menyarankan agar wanita dengan payudara implan harus memeriksakan diri secara rutin meski tidak ada gejala penyakit.
Protes terhadap keamanan implan payudara di Amerika Serikat telah berlangsung bertahun-tahun dan sempat dilarang pada 1992 akibat kebocoran silikon yang menyebabkan penyakit kronis.
"Kita tidak cukup tahu mengenai produk dan apakah aman digunakan," kata Amy Allina, Direktur Kebijakan National Women's Health Network.
Diperkirakan, 5-10 juta wanita di seluruh dunia menggunakan implan payudara dengan alasan kesehatan atau kecantikan.
Dalam laporannya, FDA menemukan 60 laporan terjadinya kanker kekebalan tubuh yang dinamai limfoma anaplastik sel besar (ALCL). Diketahui, pengembangan penyakit ini terjadi di bekas luka dekat implan payudara. Sedangkan jenis kanker ini sangat jarang ditemukan pada wanita yang tidak menggunakan implan, hanya terjadi pada tiga dari 100 juta orang.
"Kita membutuhkan lebih banyak data untuk lebih memahami masalah ini" Allina mengungkapkan, seperti dikutip CBC News.
Gejala kanker ALCL, termasuk pembengkakan atau rasa nyeri di sekitar daerah implan. Gangguan ini muncul antara satu hingga 23 tahun setelah perangkat tersebut dimasukkan. Allina menyarankan untuk menghubungi dokter jika wanita merasakan gejala tersebut. Perawatannya termasuk pengangkatan implan, kemoterapi atau radiasi.
Namun belum ditemukan apakah wanita yang menjalani implan payudara pasca-operasi pengangkatan payudara memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang menanam implan demi alasan kosmetik.
Menurut penelitian terbaru terungkap ada risiko baru yang membahayakan akibat menjalani implan payudara. Wanita yang melakukan prosedur ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker langka di sekitar silikon payudara mereka.
Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat dalam laporannya menyebutkan, wanita dengan payudara yang dipermak lebih berisiko terkena kanker payudara langka. Badan ini menyarankan agar wanita dengan payudara implan harus memeriksakan diri secara rutin meski tidak ada gejala penyakit.
Protes terhadap keamanan implan payudara di Amerika Serikat telah berlangsung bertahun-tahun dan sempat dilarang pada 1992 akibat kebocoran silikon yang menyebabkan penyakit kronis.
"Kita tidak cukup tahu mengenai produk dan apakah aman digunakan," kata Amy Allina, Direktur Kebijakan National Women's Health Network.
Diperkirakan, 5-10 juta wanita di seluruh dunia menggunakan implan payudara dengan alasan kesehatan atau kecantikan.
Dalam laporannya, FDA menemukan 60 laporan terjadinya kanker kekebalan tubuh yang dinamai limfoma anaplastik sel besar (ALCL). Diketahui, pengembangan penyakit ini terjadi di bekas luka dekat implan payudara. Sedangkan jenis kanker ini sangat jarang ditemukan pada wanita yang tidak menggunakan implan, hanya terjadi pada tiga dari 100 juta orang.
"Kita membutuhkan lebih banyak data untuk lebih memahami masalah ini" Allina mengungkapkan, seperti dikutip CBC News.
Gejala kanker ALCL, termasuk pembengkakan atau rasa nyeri di sekitar daerah implan. Gangguan ini muncul antara satu hingga 23 tahun setelah perangkat tersebut dimasukkan. Allina menyarankan untuk menghubungi dokter jika wanita merasakan gejala tersebut. Perawatannya termasuk pengangkatan implan, kemoterapi atau radiasi.
Namun belum ditemukan apakah wanita yang menjalani implan payudara pasca-operasi pengangkatan payudara memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang menanam implan demi alasan kosmetik.
Sumber : Yahoo - VIVAnews
Selasa, 13 Oktober 2009
Breast Cancer Awareness Month
Best Way to Beat Breast Cancer is to Prevent It
Executive Summary by Kasy Carr
Executive Summary by Kasy Carr
Breast Cancer Awareness Month is a time when women and young girls are alerted to the importance of early detection. This does not mean that women are not made aware of what is involved with breast cancer treatments, self breast examination and recovery issues all year round; it is just strongly more focused upon in October through Breast Awareness Campaigns.
Breast cancer groups will include people who care, and are compassionate towards your feelings. Cancer care workers will help you the best they can to come to terms with having breast cancer, be there for you when undergoing treatment for breast cancer...right through the recovery period and after care.
Breast cancer groups will include people who care, and are compassionate towards your feelings. Cancer care workers will help you the best they can to come to terms with having breast cancer, be there for you when undergoing treatment for breast cancer...right through the recovery period and after care.
If you would like to help these people who work tirelessly tending to the sick, then you can. Some people will run a marathon to raise funds for breast cancer while others may put on a show and sell tickets to make money for their breast cancer charity.
Take part in breast cancer networks - this may help you feel that, through your experiences, you are helping other women in a similar situation."
Come on girls get cracking on making those Halloween costumes and go make money for Breast Cancer. Halloween Costume Tip: Go dressed up as nurses and doctors with fully painted up zombie style faces.
Take part in breast cancer networks - this may help you feel that, through your experiences, you are helping other women in a similar situation."
Come on girls get cracking on making those Halloween costumes and go make money for Breast Cancer. Halloween Costume Tip: Go dressed up as nurses and doctors with fully painted up zombie style faces.
Senin, 12 Oktober 2009
National Breast Cancer Awareness Month
National Breast Cancer Awareness Month is an annual international health campaign organized by major breast cancer charities every October to increase awareness of the disease and to raise funds for research into its cause, prevention, and cure.
Jumat, 09 Oktober 2009
MRCCC, Pusat Kanker dengan fasilitas mutakhir
Kehadiran alat pengobatan kanker akselelator linear (linac) yang dilengkapi sistem pencitraan On-Board Imager akan mengukuhkan di Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) sebagai pusat kanker dengan peralatan terlengkap dan mutakhir di Indonesia.
MRCCC pada hari Jumat (12/9) di Jakarta telah menandatangani nota kesepahaman dengan Varian Medical Systems yang berbasis di Amerika Serikat untuk pembelian linac dengan sistem On-Board Imager.
Linac termutakhir buatan Varian ini akan menambah koleksi peralatan canggih yang melengkapi fasilitas MRCCC. Pusat kanker ini sebelumnya menyatakan akan menerapkan teknologi mutakhir lainnya buatan IBA yakni clinical cyclotron untuk memproduksi isotop dan generasi terkini PET-CT scan dari Phillips.
Dua peralatan terakhir ini dapat disebut sebagai "film dan kamera" yang digunakan untuk mendeteksi lokasi dari penyakit berbahaya yang terkecil sekalipun. Alat-alat ini berbeda dengan linac yang berfungsi mematikan sel kanker dengan radiasi yang ditargetkan.
Menurut Timothy Guertin selaku Chief Executive Operating (CEO) Varian Medical Systems, cara kerja linac adalah menciptakan sinar X energi tinggi yang menghancurkan tumor dengan cara mematikan sel-sel kanker yang tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri.
"Dengan keakuratan linac dari varian dapat menunjuk secara tepat lokasi dari penyakit yang berbahaya tersebut, agar lebih aman, akurat, dan tidak merusak sel-sel yang sahat," ujarnya.
On- Board sendiri merupakan alat pencitraan robotik termutakhir yang ada saat ini. Alat ini berfungsi untuk melacak tumor secara real-time dengan tingkat akurasi sangat tinggi, dan dapat menempatkan pasien secara otomatis.
Keunggulan alat ini memungkinkan dokter untuk berkonsentrasi pada dosis radiasi di tumor sekaligus melindungi jaringan sehat yang ada di sekelilingnya. Hal ini berarti radiasi dosis tinggi diteruskan secara cepat dengan tingkat akurasi tinggi sehingga pengobatan dapat berjalan cepat, kenyamanan pasien lebih tinggi dan hasil yang lebih baik.
Guertin menjelaskan terapi radiasi telah digunakan untuk pengobatan pasien selama lebih dari 50 tahun. Selama kurun waktu tersebut, banyak inovasi yang telah dibuat untuk memastikan terapi ini aman dan efektif dibanding terapi-terapi lainnya.
Terapi radiasi digunakan untuk pengoatan beragam jenis kanker seperti kanker kandung kemih, otak, payudara, usus besar, kanker di bagian kewanitaan, kanker di bagian kepala dan leher, limfoma, paru-paru, prostat dan kulit.
DR Mochtar Riady sendiri telah menyatakan MRCCC akan menjadi pusat pengobatan kanker terlengkap di Indonesia, yang dapat menangani beragam penyakit kanker. MRCC menjadi rumah sakit swasta berstandar internasional di pusat Jakarta yang menggunakan peralatan mutakhir yang dipadukan dengan generasi terbaru sistem IT.
Building of Hope MRCCC, demikian nama rumahsakit kanker ini, dibangun 29 lantai dan berkapasitas 210 tempat tidur. Berlokasi di dekat Hotel The Aryaduta Suites dan Plaza Semanggi, rumah sakit ini memiliki luas total 53.000 m2 dan akan beroperasi pada kuartal keempat tahun 2009.
MRCCC pada hari Jumat (12/9) di Jakarta telah menandatangani nota kesepahaman dengan Varian Medical Systems yang berbasis di Amerika Serikat untuk pembelian linac dengan sistem On-Board Imager.
Linac termutakhir buatan Varian ini akan menambah koleksi peralatan canggih yang melengkapi fasilitas MRCCC. Pusat kanker ini sebelumnya menyatakan akan menerapkan teknologi mutakhir lainnya buatan IBA yakni clinical cyclotron untuk memproduksi isotop dan generasi terkini PET-CT scan dari Phillips.
Dua peralatan terakhir ini dapat disebut sebagai "film dan kamera" yang digunakan untuk mendeteksi lokasi dari penyakit berbahaya yang terkecil sekalipun. Alat-alat ini berbeda dengan linac yang berfungsi mematikan sel kanker dengan radiasi yang ditargetkan.
Menurut Timothy Guertin selaku Chief Executive Operating (CEO) Varian Medical Systems, cara kerja linac adalah menciptakan sinar X energi tinggi yang menghancurkan tumor dengan cara mematikan sel-sel kanker yang tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri.
"Dengan keakuratan linac dari varian dapat menunjuk secara tepat lokasi dari penyakit yang berbahaya tersebut, agar lebih aman, akurat, dan tidak merusak sel-sel yang sahat," ujarnya.
On- Board sendiri merupakan alat pencitraan robotik termutakhir yang ada saat ini. Alat ini berfungsi untuk melacak tumor secara real-time dengan tingkat akurasi sangat tinggi, dan dapat menempatkan pasien secara otomatis.
Keunggulan alat ini memungkinkan dokter untuk berkonsentrasi pada dosis radiasi di tumor sekaligus melindungi jaringan sehat yang ada di sekelilingnya. Hal ini berarti radiasi dosis tinggi diteruskan secara cepat dengan tingkat akurasi tinggi sehingga pengobatan dapat berjalan cepat, kenyamanan pasien lebih tinggi dan hasil yang lebih baik.
Guertin menjelaskan terapi radiasi telah digunakan untuk pengobatan pasien selama lebih dari 50 tahun. Selama kurun waktu tersebut, banyak inovasi yang telah dibuat untuk memastikan terapi ini aman dan efektif dibanding terapi-terapi lainnya.
Terapi radiasi digunakan untuk pengoatan beragam jenis kanker seperti kanker kandung kemih, otak, payudara, usus besar, kanker di bagian kewanitaan, kanker di bagian kepala dan leher, limfoma, paru-paru, prostat dan kulit.
DR Mochtar Riady sendiri telah menyatakan MRCCC akan menjadi pusat pengobatan kanker terlengkap di Indonesia, yang dapat menangani beragam penyakit kanker. MRCC menjadi rumah sakit swasta berstandar internasional di pusat Jakarta yang menggunakan peralatan mutakhir yang dipadukan dengan generasi terbaru sistem IT.
Building of Hope MRCCC, demikian nama rumahsakit kanker ini, dibangun 29 lantai dan berkapasitas 210 tempat tidur. Berlokasi di dekat Hotel The Aryaduta Suites dan Plaza Semanggi, rumah sakit ini memiliki luas total 53.000 m2 dan akan beroperasi pada kuartal keempat tahun 2009.
Sumber : AC, Kompas
Jumat, 12 September 2008 | 14:44 WIB
Minggu, 04 Oktober 2009
Cancer Center Pertama di Indonesia yang Miliki Clinical Cyclotron
Pusat pengobatan penyakit kanker pertama dengan peralatan lengkap dan mutakhir di Indonesia, Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan Belgia, IBA untuk pembelian clinical cyclotron yang memproduksi isotop.
Penandatanganan nota kesepahaman ini dihadiri pendiri Grup Lippo Mochtar Riady, Duta Besar Belgia untuk Indonesia Marc Trenteseau, President Mochtar Riady Institute for Nanotechnology Prof Susan Tai, CEO Siloam Hospitals dr Gershu Pa ul dan President IBA Molecular Equipment Olivier Van Der Borght, Rabu (24/7).
Mochtar Riady mengatakan, tujuan penyediaan peralatan canggih itu untuk mengatasi masalah kanker di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia WHO melaporkan kanker merupakan penye bab utama kematian di seluruh dunia dan diperkirakan akan meningkat 50 persen pada tahun 2020.
Deteksi dini dan pengobatan yang efektif merupakan dua kunci keberhasilan penanganan kanker setelah langkah pencegahan. Hampir 800.000 orang Indonesia ter serang beragam jenis kanker setiap tahun namun pelayanan untuk penyakit ini tidak cukup tersedia. Hanya ada beberapa rumah sakit yang menyediakan pelayanan dasar radiasi di Pulau Jawa. Beberapa terapi seperti Radio-Immunotherapy (RIT) dan brachytherapy dosis tinggi Cyclotron saat ini tidak tersedia karena kurangnya fasilitas dan keahlian.
Deteksi dini dan pengobatan yang efektif merupakan dua kunci keberhasilan penanganan kanker setelah langkah pencegahan. Hampir 800.000 orang Indonesia ter serang beragam jenis kanker setiap tahun namun pelayanan untuk penyakit ini tidak cukup tersedia. Hanya ada beberapa rumah sakit yang menyediakan pelayanan dasar radiasi di Pulau Jawa. Beberapa terapi seperti Radio-Immunotherapy (RIT) dan brachytherapy dosis tinggi Cyclotron saat ini tidak tersedia karena kurangnya fasilitas dan keahlian.
MRCCC bermitra dengan IBA, pemimpin dalam bidang pengobatan molekular di dunia untuk melawan kanker. IBA juga pemimpin dalam desain dan pembuatan Single Photon Emission Computed Tomography dan Positron Emission Tomography cyclotrons dan sistem kimiawi yang digunakan untuk pembuatan radiofarmasi untuk prosedur diagnostik dengan pengobatan nuklir.
MRCCC akan menjadi pusat pengobatan kanker terlengkap di Indonesia, yang dapat menangani beragam penyakit kanker. MRCC menjadi rumah sakit swasta berstandar internasional di pusat Jakarta yang menggunakan peralatan mutakhir yang dipadukan dengan generasi terbaru sistem IT.
Building of Hope MRCCC, demikian nama rumahsakit kanker ini, dibangun 29 lantai dan berkapasitas 210 tempat tidur. Lokasinya dekat Hotel The Aryaduta Suites dan Plaza Semanggi. Luas rumah sakit ini seluruhnya 53.000 m2 dan akan beroperasi pada kuartal keempat tahun 2009.
Building of Hope MRCCC, demikian nama rumahsakit kanker ini, dibangun 29 lantai dan berkapasitas 210 tempat tidur. Lokasinya dekat Hotel The Aryaduta Suites dan Plaza Semanggi. Luas rumah sakit ini seluruhnya 53.000 m2 dan akan beroperasi pada kuartal keempat tahun 2009.
MRCCC akan menyediakan pemeriksaan untuk kanker payudara, kanker usus besar, kanker serviks, kanker paru-paru, dan kanker di daerah kepala dan leher, serta jenis kanker lainnya.
MRCCC akan menjadi salah satu rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan komputerisasi terintegrasi dan sistem informatika digital yang menghubungkan imaging, patologi, farmasi dan layanan lainnya di rumah sakit. "Ini akan meningkan efisiensi dan keakuratan dalam pelayanan," papar Corporate PR & Communications Manager Siloam Hospitals Group, Mariana Tarunadjaja.
R Adhi Kusumaputra
Sumber : Kompas , Rabu, 23 Juli 2008 | 23:08 WIB
Sabtu, 03 Oktober 2009
The Role of Oncologist For Breast Cancer
Oncology is certainly the most quickly growing sub-specialty in the field of medicine, and breast cancer is one of the most crucial problems of oncology. It is the principal cause of death of women in lots of countries and is really a multidisciplinary problem with no geographic constraints.
It is the most usual cancer of women in the US, affecting approximately one in eight as long as their life span. It affects men, but it is rare, accounting for less than 1 percent of all cases. In 2007, roughly 200,000 women and 1,600 men in the US had the disease. As a person ages, the possibility of getting breast cancer rises.
It is the most usual cancer of women in the US, affecting approximately one in eight as long as their life span. It affects men, but it is rare, accounting for less than 1 percent of all cases. In 2007, roughly 200,000 women and 1,600 men in the US had the disease. As a person ages, the possibility of getting breast cancer rises.
To treat breast cancer well, many medical professionals with various specialties are required. Every diagnosis is distinctive and treated in a different way. A number of women might visit a cancer center where a group of physicians who focus in breast disease (radiologist, oncologist, surgeon, etc.) collaborate to settle on treatment. Other women are referred to cancer specialists by their principal care physician (family practitioner, gynecologist).
Medical professionals engaged in breast cancer diagnosis and treatment might include: Gynecologist or OB/GYN, Radiologist, Oncologist (general, medical, radiation, surgical), Nurse/oncology nurse specialist, Oncology social worker, Surgeon, Radiation therapy oncologist, Radiation therapy technologist, Radiation therapy physicist, Pathologist, and Reconstructive/plastic surgeon.
An oncologist is a medical doctor who trains in the diagnosis and also treatment of cancer. If a radiologist identifies breast cancer, a woman might be referred to an oncologist for treatment. Medical oncologists concentrate in the use of chemotherapy and other drugs to care for cancer. Radiation oncologists focus in the usage of x-rays and other radiation techniques to eradicate tumors.
Source : MC Ezzia, EzineArticles
Minggu, 27 September 2009
Putus Asa Menjalani Terapi Kanker
Rubrik Konsultasi Kesehatan asuhan Prof Dr Samsuridjal Djauzi di surat kabar KOMPAS edisi Minggu:
Semula saya hanya merasakan demam yang hilang timbul. Saya menduga demam tersebut karena flu dan kelelahan. Tetapi, saya mulai khawatir karena timbul benjolan di leher dan ketiak. Saya berkonsultasi ke dokter dan benjolan tersebut dinyatakan sebagai pembengkakan kelenjar. Dokter belum dapat menentukan penyebabnya, mungkin infeksi, tetapi juga mungkin kanker kelenjar getah bening. Tentu saya amat khawatir sekiranya mengidap kanker, tetapi saya berusaha tabah dan sabar.
Semula saya hanya merasakan demam yang hilang timbul. Saya menduga demam tersebut karena flu dan kelelahan. Tetapi, saya mulai khawatir karena timbul benjolan di leher dan ketiak. Saya berkonsultasi ke dokter dan benjolan tersebut dinyatakan sebagai pembengkakan kelenjar. Dokter belum dapat menentukan penyebabnya, mungkin infeksi, tetapi juga mungkin kanker kelenjar getah bening. Tentu saya amat khawatir sekiranya mengidap kanker, tetapi saya berusaha tabah dan sabar.
Saya harus menjalani sejumlah pemeriksaan, mulai dari pengambilan jaringan dari kelenjar, rontgen dada, CT scan, sampai pemeriksaan laboratorium yang menelan biaya mahal. Kemudian saya harus menunggu cukup lama, termasuk menunggu hasil pemeriksaan biopsi. Setiap malam saya sukar tidur membayangkan hasil pemeriksaan, apakah menderita kanker atau tidak. Akhirnya keputusan datang juga. Saya ternyata menderita kanker ganas yang stadiumnya cukup lanjut. Saya benar-benar terpukul dengan diagnosis tersebut. Namun, saya mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menjalani terapi, baik dari aspek fisik, mental, maupun finansial.
Saya kemudian menjual rumah karena saya hanya pengusaha kecil yang tak mempunyai asuransi. Urusan bisnis saya serahkan adik dan saya berkonsentrasi menjalani terapi pengobatan kanker.
Saya semula kemoterapi, lebih ringan daripada operasi atau radioterapi, tetapi penderitaan yang saya jalani membuat saya putus asa. Setiap pemberian terapi tubuh saya bereaksi, darah putih turun tajam sehingga harus dirawat di kamar steril. Biaya untuk kamar steril, antibiotik, dan obat peningkat sel darah putih semula tak saya perhitungkan. Harganya ternyata amat mahal untuk pengusaha kecil seperti saya. Acapkali saya mengalami demam dan pucat. Saya akhirnya pasrah dan dapat menjalani siklus terakhir kemoterapi sebulan lalu.
Secara jujur saya mengakui sebenarnya dalam menjalani terapi tersebut saya sudah putus asa. Saya putus asa karena efek samping obat kemoterapi dan biaya obat kemoterapi serta biaya obat penunjang lain yang amat mahal.
Syukurlah semua telah berlalu. Saya hanya berharap hasil kemoterapi yang baik ini akan dapat menetap dan berdoa agar saya tak mengalami kekambuhan.
Pertanyaan saya, apakah memang pengobatan kemoterapi efek sampingnya dapat seperti yang saya alami?
Apa upaya kalangan profesi kedokteran untuk menurunkan biaya terapi kanker khususnya kemoterapi? Terima kasih atas jawaban Dokter.
Syukurlah semua telah berlalu. Saya hanya berharap hasil kemoterapi yang baik ini akan dapat menetap dan berdoa agar saya tak mengalami kekambuhan.
Pertanyaan saya, apakah memang pengobatan kemoterapi efek sampingnya dapat seperti yang saya alami?
Apa upaya kalangan profesi kedokteran untuk menurunkan biaya terapi kanker khususnya kemoterapi? Terima kasih atas jawaban Dokter.
M di B
Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat karena Anda telah berhasil menjalani kemoterapi dengan baik. Saya juga ikut bersyukur karena hasil kemoterapi Anda juga baik. Kemoterapi telah mengalami kemajuan sehingga hasil kemoterapi sudah semakin meningkat. Kemoterapi juga semakin agresif. Obat kemoterapi yang semakin potent (manjur) banyak ditemukan, tetapi kombinasi obat yang digunakan mempunyai efek samping juga semakin menonjol. Itulah sebabnya kemoterapi yang agresif ini memerlukan pengawasan dokter yang berpengalaman dalam pemberian kemoterapi, biasanya seorang konsultan hematologi onkologi medik.
Anda sendiri telah mengalami banyak hal dalam pemberian kemoterapi yang saya rasa merupakan kemoterapi yang agresif. Kerja sama Anda dan dokter Anda akhirnya berbuah dengan berhasilnya kemoterapi dilaksanakan sesuai rancangan dan bahkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Sekarang ini dikenal penyakit kanker yang dapat disembuhkan dan kanker kelenjar getah bening termasuk kanker yang dapat disembuhkan meski untuk itu penderita harus melampaui perjuangan yang amat panjang dan melelahkan. Biaya diagnosis dan pengobatan kanker sekarang ini semakin mahal. Ini disebabkan oleh penggunaan alat canggih, tes terbaru, dan obat atau tindakan medis yang biaya risetnya amat mahal. Karena itu, setiap orang perlu waspada terhadap penyakit kanker. Upaya pencegahan berupa vaksinasi untuk mencegah infeksi yang dapat menimbulkan kanker (Hepatitis B, Human Papilloma Virus) perlu digalakkan. Gaya hidup yang memudahkan paparan terhadap bahan karsinogen (rokok, bahan kimia) perlu diubah. Dengan demikian, risiko terkena kanker dapat dikurangi.
Untuk pembiayaan terapi kanker sudah waktunya masyarakat melindungi diri dengan asuransi kesehatan. Pemerintah dan masyarakat juga dapat mengusahakan obat kemoterapi yang lebih murah dengan cara menyediakan obat kemoterapi generik.
Dewasa ini obat kemoterapi yang beredar di Indonesia masih merupakan obat paten yang harganya amat mahal. Padahal, di negara-negara yang sedang berkembang lainnya, keberadaan obat kemoterapi generik beserta penunjangnya semakin menonjol. Bahkan beberapa negara telah membuat sendiri obat kanker generik sehingga harganya lebih terjangkau dan tak tergantung pada obat impor. Jika tersedia bentuk generiknya, maka harga obat kemoterapi akan jauh lebih murah. Mudah-mudahan PT Kimia Farma, PT Indo Farma, serta perusahaan farmasi pemerintah lainnya dapat memelopori pengadaan obat kanker generik di Indonesia.
Pengalaman Anda bukan hanya berharga untuk Anda, tetapi juga merupakan peringatan bagi kita semua agar kita semakin waspada terhadap penyakit kanker serta layanan kanker di Indonesia dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Sumber : Kompas Cetak
Minggu, 28 September 2008 | 11:40 WIB
Rabu, 16 September 2009
Cancer Prevention Diet - Cruciferous Vegetables
By Stewart Hare
In this cancer prevention diet article about cruciferousvegetables, you will discover:
What Are Cruciferous Vegetables?
The following are cruciferous vegetables:
Why Are Cruciferous Vegetables A Must In Your Cancer Prevention Diet?
* Sulforaphane
* Indole-3-Carbinol
They are especially good at protecting against the following cancers:
* Breast Cancer
* Prostate Cancer
* Colon Cancer
* Cervical Cancer
So, to sum up…
In this cancer prevention diet article about cruciferousvegetables, you will discover:
* What are cruciferous vegetables?
* Why are cruciferous vegetables a must in your cancer prevention diet?
* How many cruciferous vegetables do you need to include in your cancer prevention diet?
* Why are cruciferous vegetables a must in your cancer prevention diet?
* How many cruciferous vegetables do you need to include in your cancer prevention diet?
What Are Cruciferous Vegetables?
Cruciferous vegetables are the edible vegetables within in the brassicaceae family of plants. Cruciferous vegetables are packed full of beneficial health ingredients such as:
* Antioxidants, Carotenoids, Chlorophyll, Fiber, Flavonoids, Folate, Glucosinolates, Indole-3-Carbinol, Isothiocyanates, Lingnans, Phytochemicals, Phytosterols, Potassium, Selenium, Sulforaphane, Vitamin C.
The following are cruciferous vegetables:
* Arugula, Bok Choy, Broccoli, Brussels Sprouts, Cabbage, Cauliflower, Collard Greens, Daikon, Horseradish, Kale, Kohlrabi, Mizuna, Mustard Greens, Napa (Chinese Cabbage), Radishes, Rutabaga, Tatsoi, Turnip Greens, Turnips, Watercress.
Why Are Cruciferous Vegetables A Must In Your Cancer Prevention Diet?
Cruciferous vegetables are a must in your cancer prevention diet because they contain the following powerful anti-cancer properties:
* Isothiocyanates* Sulforaphane
* Indole-3-Carbinol
Isothiocyanates aids the body in the breakdown of carcinogens, this can help to protect against tobacco related cancers such as lung cancer. Both sulforaphane and indole-3-carbinol can delay the development, growth and size of tumours.
They are especially good at protecting against the following cancers:
* Breast Cancer
* Prostate Cancer
* Colon Cancer
* Cervical Cancer
Cruciferous vegetables are a good source of soluble and insoluble fibre. Increasing fibre within your diet can help to protect against cancer, especially colon cancer. How Many Cruciferous Vegetables Do You Need To Include In Your Cancer Prevention Diet? You will need to include at least three portions a week of cruciferous vegetables in your cancer prevention diet.
So, to sum up…
Cruciferous vegetables are a must in your cancer prevention diet. They are packed full of cancer busting ingredients, which can help to protect you against all types of cancers. By including three portions a week of cruciferous vegetables, you can help to reduce the risk of developing cancer in later life, dramatically.
Sumber : Ezine
Sumber : Ezine
Senin, 31 Agustus 2009
The Role of Oncologist For Breast Cancer
By MC Ezzia
Oncology is certainly the most quickly growing sub-specialty in the field of medicine, and breast cancer is one of the most crucial problems of oncology. It is the principal cause of death of women in lots of countries and is really a multidisciplinary problem with no geographic constraints.
It is the most usual cancer of women in the US, affecting approximately one in eight as long as their life span. It affects men, but it is rare, accounting for less than 1 percent of all cases. In 2007, roughly 200,000 women and 1,600 men in the US had the disease. As a person ages, the possibility of getting breast cancer rises.
To treat breast cancer well, many medical professionals with various specialties are required. Every diagnosis is distinctive and treated in a different way. A number of women might visit a cancer center where a group of physicians who focus in breast disease (radiologist, oncologist, surgeon, etc.) collaborate to settle on treatment. Other women are referred to cancer specialists by their principal care physician (family practitioner, gynecologist).
Medical professionals engaged in breast cancer diagnosis and treatment might include: Gynecologist or OB/GYN, Radiologist, Oncologist (general, medical, radiation, surgical), Nurse/oncology nurse specialist, Oncology social worker, Surgeon, Radiation therapy oncologist, Radiation therapy technologist, Radiation therapy physicist, Pathologist, and Reconstructive/plastic surgeon.
An oncologist is a medical doctor who trains in the diagnosis and also treatment of cancer. If a radiologist identifies breast cancer, a woman might be referred to an oncologist for treatment.
Medical oncologists concentrate in the use of chemotherapy and other drugs to care for cancer. Radiation oncologists focus in the sage of x-rays and other radiation techniques to eradicate tumors.
Source : Ezine
It is the most usual cancer of women in the US, affecting approximately one in eight as long as their life span. It affects men, but it is rare, accounting for less than 1 percent of all cases. In 2007, roughly 200,000 women and 1,600 men in the US had the disease. As a person ages, the possibility of getting breast cancer rises.
To treat breast cancer well, many medical professionals with various specialties are required. Every diagnosis is distinctive and treated in a different way. A number of women might visit a cancer center where a group of physicians who focus in breast disease (radiologist, oncologist, surgeon, etc.) collaborate to settle on treatment. Other women are referred to cancer specialists by their principal care physician (family practitioner, gynecologist).
Medical professionals engaged in breast cancer diagnosis and treatment might include: Gynecologist or OB/GYN, Radiologist, Oncologist (general, medical, radiation, surgical), Nurse/oncology nurse specialist, Oncology social worker, Surgeon, Radiation therapy oncologist, Radiation therapy technologist, Radiation therapy physicist, Pathologist, and Reconstructive/plastic surgeon.
An oncologist is a medical doctor who trains in the diagnosis and also treatment of cancer. If a radiologist identifies breast cancer, a woman might be referred to an oncologist for treatment.
Medical oncologists concentrate in the use of chemotherapy and other drugs to care for cancer. Radiation oncologists focus in the sage of x-rays and other radiation techniques to eradicate tumors.
Source : Ezine
Sabtu, 29 Agustus 2009
Breast Cancer Stages
Breast cancer is divided into five stages. Stages 0-2 are considered "early", stage 3 considered "advanced", and stage 4 "late". Staging categories are important for predicting future prognosis, and determine optimal treatment recommendations.
Stage 0 is DCIS, or ductal carcinoma in situ. Breast cancer arises from the cells that line the milk ducts. When the cancerous cells are still contained inside the duct, it is diagnosed as DCIS. This can only be determined by a pathologist doctor looking at the tissue under a microscope. In general, when the DCIS lesion is small, there is no need to suspect cancer spread outside the breast.
Stage 1 is invasive or infiltrating cancer. Here, the cancer cells have broken through the duct wall and are found outside the ducts as well. In this case, doctors need to determine whether the cancer has spread to the lymph nodes. Stage 1 breast cancer must be equal or smaller than 2 cm in its invasive component, AND have no spread to lymph nodes. Often, the tissue removed at surgery contain DCIS in addition to the invasive cancer. However, only the dimensions of the invasive cancer count. If the patient needs to have multiple surgeries and the invasive cancer is found at more than one operation, usually the dimensions are added together to arrive at the final size.
Stage 2 has two subcategories. In stage 2A, the invasive cancer can be 2 cm or less and has spread to axillary (armpit) lymph node(s), i.e. positive node(s). Also, the invasive cancer can be as large as 5 cm, but has not spread to lymph nodes, i.e. negative nodes. In stage 2B, the invasive cancer is between 2cm and up to 5 cm and has spread to nodes. Here, cancer may measure even larger than 5 cm if it has not spread to nodes.
Stage 3 includes invasive cancer larger than 5 cm that has spread to lymph nodes. Also, cancer of any size that heavily involves the axillary lymph nodes to the point that these nodes are bulky and stuck together or stuck to other structures in the axilla (armpit) are in this stage. Tumor spread to lymph nodes either above or below the clavicle bone, or to nodes underneath the sternum (breast bone), also falls into this category. Furthermore, if the cancer of any size is attached to the chest wall (pectoralis muscle and/or ribs), it qualifies as stage 3. Inflammatory cancer, where the skin of the breast is red and swollen, is classified in this stage, regardless of size.
Stage 4 is invasive cancer found outside the breast and axillary lymph nodes, or "metastatic" to distant sites. At this stage, it does not matter how large the primary cancer in the breast is. Nor does it matter whether axillary/clavicle/breast bone lymph nodes have cancer or not. The most common sites for metastasis for breast cancer are bone and liver, followed by lungs and brain. Standard testing include bone scan and CT scan of the chest, abdomen and pelvis. More recently, PET scan is often done to look for cancer spread. Sometimes, a brain MRI or CT is also useful.
Stage 0 is DCIS, or ductal carcinoma in situ. Breast cancer arises from the cells that line the milk ducts. When the cancerous cells are still contained inside the duct, it is diagnosed as DCIS. This can only be determined by a pathologist doctor looking at the tissue under a microscope. In general, when the DCIS lesion is small, there is no need to suspect cancer spread outside the breast.
Stage 1 is invasive or infiltrating cancer. Here, the cancer cells have broken through the duct wall and are found outside the ducts as well. In this case, doctors need to determine whether the cancer has spread to the lymph nodes. Stage 1 breast cancer must be equal or smaller than 2 cm in its invasive component, AND have no spread to lymph nodes. Often, the tissue removed at surgery contain DCIS in addition to the invasive cancer. However, only the dimensions of the invasive cancer count. If the patient needs to have multiple surgeries and the invasive cancer is found at more than one operation, usually the dimensions are added together to arrive at the final size.
Stage 2 has two subcategories. In stage 2A, the invasive cancer can be 2 cm or less and has spread to axillary (armpit) lymph node(s), i.e. positive node(s). Also, the invasive cancer can be as large as 5 cm, but has not spread to lymph nodes, i.e. negative nodes. In stage 2B, the invasive cancer is between 2cm and up to 5 cm and has spread to nodes. Here, cancer may measure even larger than 5 cm if it has not spread to nodes.
Stage 3 includes invasive cancer larger than 5 cm that has spread to lymph nodes. Also, cancer of any size that heavily involves the axillary lymph nodes to the point that these nodes are bulky and stuck together or stuck to other structures in the axilla (armpit) are in this stage. Tumor spread to lymph nodes either above or below the clavicle bone, or to nodes underneath the sternum (breast bone), also falls into this category. Furthermore, if the cancer of any size is attached to the chest wall (pectoralis muscle and/or ribs), it qualifies as stage 3. Inflammatory cancer, where the skin of the breast is red and swollen, is classified in this stage, regardless of size.
Stage 4 is invasive cancer found outside the breast and axillary lymph nodes, or "metastatic" to distant sites. At this stage, it does not matter how large the primary cancer in the breast is. Nor does it matter whether axillary/clavicle/breast bone lymph nodes have cancer or not. The most common sites for metastasis for breast cancer are bone and liver, followed by lungs and brain. Standard testing include bone scan and CT scan of the chest, abdomen and pelvis. More recently, PET scan is often done to look for cancer spread. Sometimes, a brain MRI or CT is also useful.
Source : Dr. Mai Brooks-Ezine Articles
Senin, 24 Agustus 2009
Penelitian Sel Punca Kanker, Harapan Baru Penderita Kanker
JAKARTA, KOMPAS.com - Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) bekerjasama untuk melakukan penelitian terhadap karakteristik sel punca kanker untuk menemukan cara yang tepat menghentikan sel kanker memperbarui diri.
"Sel punca kanker inilah yang menentukan sel-sel kanker yang sudah diobati tumbuh lagi" kata Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik FKUI Septelia Inawati Wanandi di FKUI, Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan jika karakteristik sel punca kanker telah diteliti, maka akan ditemukan cara untuk menghambat perkembangan atau bahkan membunuh sel punca tersebut sehingga penyakit kanker bisa disembuhkan secara total dan tidak merusak jaringan normal yang berada di sekitar sel kanker.
Penelitian terhadap sel punca kanker akan mengarah pada pengembangan pengobatan kanker dengan "targeted therapy". "Targeted therapy" ialah pengobatan kanker yang hanya membunuh sel punca kankernya saja tanpa membunuh sel-sel normal yang berada di sekitar sel-sel kanker.
Pengobatan kanker selama ini menggunakan pengobatan sinar, kemoterapi, dan pembedahan. Pengobatan tersebut bukan hanya mematikan sel-sel kanker namun juga merusak sel-sel normal yang hidup di sekitar sel kanker.
Rusaknya sel-sel normal itulah yang menyebabkan penderita merasa kesakitan ketika menjalani pengobatan kanker.
"Dengan membunuh sel punca kankernya saja, diharapkan akan menciptakan pengobatan yang lebih nyaman bagi penderita kanker," kata Septelia.
Peneliti dari UI itu juga menjelaskan penelitian sel punca kanker dilakukan pada sel kanker payudara dan kanker rahim karena jumlah penderita kanker payudara dan kanker rahim paling tinggi dibandingkan penderita kanker lainnya.
Penelitian sel punca kanker ditargetkan selesai dalam tiga tahun dan akan dimulai pada bulan Juni 2009.
"Seharusnya kami sudah mulai bulan Maret, tetapi karena penelitian ini benar-benar baru, jadi kami harus menyiapkan semuanya dari awal," kata perempuan yang kerap dipanggil Ina itu.
Sebelumnya, sudah banyak penelitian terhadap sel punca pada jaringan tubuh yang sehat atau sel punca normal, bukan sel punca kanker. Sel punca normal bahkan dapat digunakan untuk pengobatan.
"Sel punca kanker inilah yang menentukan sel-sel kanker yang sudah diobati tumbuh lagi" kata Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik FKUI Septelia Inawati Wanandi di FKUI, Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan jika karakteristik sel punca kanker telah diteliti, maka akan ditemukan cara untuk menghambat perkembangan atau bahkan membunuh sel punca tersebut sehingga penyakit kanker bisa disembuhkan secara total dan tidak merusak jaringan normal yang berada di sekitar sel kanker.
Penelitian terhadap sel punca kanker akan mengarah pada pengembangan pengobatan kanker dengan "targeted therapy". "Targeted therapy" ialah pengobatan kanker yang hanya membunuh sel punca kankernya saja tanpa membunuh sel-sel normal yang berada di sekitar sel-sel kanker.
Pengobatan kanker selama ini menggunakan pengobatan sinar, kemoterapi, dan pembedahan. Pengobatan tersebut bukan hanya mematikan sel-sel kanker namun juga merusak sel-sel normal yang hidup di sekitar sel kanker.
Rusaknya sel-sel normal itulah yang menyebabkan penderita merasa kesakitan ketika menjalani pengobatan kanker.
"Dengan membunuh sel punca kankernya saja, diharapkan akan menciptakan pengobatan yang lebih nyaman bagi penderita kanker," kata Septelia.
Peneliti dari UI itu juga menjelaskan penelitian sel punca kanker dilakukan pada sel kanker payudara dan kanker rahim karena jumlah penderita kanker payudara dan kanker rahim paling tinggi dibandingkan penderita kanker lainnya.
Penelitian sel punca kanker ditargetkan selesai dalam tiga tahun dan akan dimulai pada bulan Juni 2009.
"Seharusnya kami sudah mulai bulan Maret, tetapi karena penelitian ini benar-benar baru, jadi kami harus menyiapkan semuanya dari awal," kata perempuan yang kerap dipanggil Ina itu.
Sebelumnya, sudah banyak penelitian terhadap sel punca pada jaringan tubuh yang sehat atau sel punca normal, bukan sel punca kanker. Sel punca normal bahkan dapat digunakan untuk pengobatan.
ABD
Sumber : Antara - Kompas
Rabu, 20 Mei 2009 | 20:22 WIB
Jumat, 21 Agustus 2009
Dicanangkan Program Nasional Deteksi Kanker Rahim dan Payudara
JAKARTA, SENIN - Ibu Ani Yudhoyono mencanangkan Program Nasional
Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara, yang merupakan jenis kanker yang banyak diderita perempuan di Indonesia.
Program nasional tersebut dicanangkan di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Senin (21/4), bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Pencanangan yang bertema "Selamatkan Perempuan Indonesia Dari Kanker Melalui Deteksi Dini" itu juga dihadiri oleh Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dan juga istri-istri para menteri Kabinet Indonesia Bersatu.
Pada pencanangan tersebut, Departemen Kesehatan (Depkes) menyumbangkan bantuan berupa alat deteksi dini kepada enam kabupaten, yaitu Deli Serdang, Gresik, Kebumen, Gunung Kidul, Karawang, dan Gowa. Depkes juga menyumbangkan mobil mammografi kepada RS Kanker Dharmais.
Menurut rencana, pada acara pencanangan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu, Ibu Negara juga akan meninjau fasilitas dan ruang pemeriksaan di RS Dharmais. Berdasarkan data 2001, penyakit kanker merupakan penyebab kematian kelima di Indonesia dan terus mengalami peningkatan.
Pada 2007, penderita kanker tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara yang diikuti oleh kanker leher rahim. Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) 2002, kanker payudara menempati urutan pertama dari seluruh kanker pada perempuan dengan penemuan kasus baru 22,7 persen dan jumlah kematian 14 persen per tahun dari seluruh penyakit kanker yang diderita perempuan di dunia.
Kanker rahim menempati urutan kedua dengan temuan kasus baru 9,7 persen dan jumlah kematian 9,3 persen dari seluruh kanker pada perempuan di dunia. Meski belum diketahui pasti insiden kanker di Indonesia, namun berdasarkan data Globocan tersebut, pada 2002 didapatkan perkiraan penderita kanker payudara sebesar 26 per 100.000 perempuan dan kanker leher rahim sebesar 16 persen per 100.000 perempuan.
Menurut Departemen Kesehatan, salah satu alasan semakin berkembangnya penyakit kanker tersebut adalah rendahnya cakupan deteksi dini.
Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara, yang merupakan jenis kanker yang banyak diderita perempuan di Indonesia.
Program nasional tersebut dicanangkan di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, Senin (21/4), bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Pencanangan yang bertema "Selamatkan Perempuan Indonesia Dari Kanker Melalui Deteksi Dini" itu juga dihadiri oleh Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dan juga istri-istri para menteri Kabinet Indonesia Bersatu.
Pada pencanangan tersebut, Departemen Kesehatan (Depkes) menyumbangkan bantuan berupa alat deteksi dini kepada enam kabupaten, yaitu Deli Serdang, Gresik, Kebumen, Gunung Kidul, Karawang, dan Gowa. Depkes juga menyumbangkan mobil mammografi kepada RS Kanker Dharmais.
Menurut rencana, pada acara pencanangan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu, Ibu Negara juga akan meninjau fasilitas dan ruang pemeriksaan di RS Dharmais. Berdasarkan data 2001, penyakit kanker merupakan penyebab kematian kelima di Indonesia dan terus mengalami peningkatan.
Pada 2007, penderita kanker tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara yang diikuti oleh kanker leher rahim. Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) 2002, kanker payudara menempati urutan pertama dari seluruh kanker pada perempuan dengan penemuan kasus baru 22,7 persen dan jumlah kematian 14 persen per tahun dari seluruh penyakit kanker yang diderita perempuan di dunia.
Kanker rahim menempati urutan kedua dengan temuan kasus baru 9,7 persen dan jumlah kematian 9,3 persen dari seluruh kanker pada perempuan di dunia. Meski belum diketahui pasti insiden kanker di Indonesia, namun berdasarkan data Globocan tersebut, pada 2002 didapatkan perkiraan penderita kanker payudara sebesar 26 per 100.000 perempuan dan kanker leher rahim sebesar 16 persen per 100.000 perempuan.
Menurut Departemen Kesehatan, salah satu alasan semakin berkembangnya penyakit kanker tersebut adalah rendahnya cakupan deteksi dini.
AC
Sumber : Antara - Kompas
Senin, 21 April 2008 | 09:58 WIB
Rabu, 19 Agustus 2009
Banyak Gerak Hindarkan Kanker Payudara
INGIN terhindar dari risiko kanker payudara? Cobalah mengubah gaya hidup dengan lebih banyak beraktivitas termasuk meluangkan waktu berolahraga. Suatu riset menunjukkan, aktivitas yang membuat tubuh bergerak aktif dan membakar kalori mampu menekan risiko para wanita sehat dan lanjut usia mengidap kanker payudara hingga 30 persen.
Penelitian di Amerika Serikat melibatkan sekitar 30.000 wanita pasca-menopause memperlihatkan bahwa aktivitas yang menguras tenaga -- mulai dari jenis pekerjaan rumah seperti mengepel lantai hingga olahraga jogging -- dapat melindungi para kaum Hawa dari ancaman kanker payudara, bahkan juga buat mereka yang tak termasuk kelompok berisiko tinggi.
Faedah olahraga dan aktivitas ini, kata peneliti, lebih nyata terlihat di antara para wanita yang berbadan kurus. "Kami tahu bahwa kegemukan telah menyebabkan risiko wanita mengidap kanker payudara meningkat. Apa yang ditunjukkan riset kami, para wanita yang tidak mengalami peningkatan risiko akan memperoleh faedahnya jika mereka berolahraga," ungkap Michael Leitzmann, peneliti dari National Cancer Institute of the U.S. National Institutes of Health.
Sejumlah penelitian lain menyebutkan bahwa aktivitas yang menguras kalori seperti olahraga dapat menghindarkan seseorang dari sakit jantung, kanker dan penyakit degeneratif lainnya.
Dalam risetnya, Leitzmann menggunakan teknik kuisioner untuk menentukan seberapa sering responden wanita melakukan olahraga atau beraktivitas. Semua wanita dalam kondisi sehat ketika riset dimulai. Dalam 11 tahun kemudian, penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan partisipan yang paling rajin beraktivitas atau berolahraga berisiko 13 persen lebih rendah mengidap kanker.
Penurunan risiko ini tercatat lebih besar lagi -- sekitar 30 persen --ketika para ahli membandingkannya dengan para wanita yang berat badannya normal. "Hubungannya akan lebih kuat di antara wanita yang berbadan ramping," ungkap Leitzmann, yang juga bekerja di University Hospital, Regensburg, Jerman.
Yang menarik, jenis aktivitas yang tidak terlalu menguras tenaga seperti pekerjaan rumah yang ringan, berjalan kaki, hiking, tampaknya tidak terlalu signifikan memberikan efek perlindungan, kata peneliti yang memuat risetnya dalam jurnal BioMed Central's Breast Cancer Research.
Riset ini tidak menjelaskan mengapa olahraga dapat memberikan manfaat bagi pencegahan kanker, namun Leitzmann mencatat bahwa penelitian lain telah menujukkan bahwa bergerak aktif dapat menurunkan kadar estrogen s -- yang merupakan salah satu faktor risiko -- selain juga dapat memberikan proteksi terhadap sistem kekebalan secara umum.
Penelitian di Amerika Serikat melibatkan sekitar 30.000 wanita pasca-menopause memperlihatkan bahwa aktivitas yang menguras tenaga -- mulai dari jenis pekerjaan rumah seperti mengepel lantai hingga olahraga jogging -- dapat melindungi para kaum Hawa dari ancaman kanker payudara, bahkan juga buat mereka yang tak termasuk kelompok berisiko tinggi.
Faedah olahraga dan aktivitas ini, kata peneliti, lebih nyata terlihat di antara para wanita yang berbadan kurus. "Kami tahu bahwa kegemukan telah menyebabkan risiko wanita mengidap kanker payudara meningkat. Apa yang ditunjukkan riset kami, para wanita yang tidak mengalami peningkatan risiko akan memperoleh faedahnya jika mereka berolahraga," ungkap Michael Leitzmann, peneliti dari National Cancer Institute of the U.S. National Institutes of Health.
Sejumlah penelitian lain menyebutkan bahwa aktivitas yang menguras kalori seperti olahraga dapat menghindarkan seseorang dari sakit jantung, kanker dan penyakit degeneratif lainnya.
Dalam risetnya, Leitzmann menggunakan teknik kuisioner untuk menentukan seberapa sering responden wanita melakukan olahraga atau beraktivitas. Semua wanita dalam kondisi sehat ketika riset dimulai. Dalam 11 tahun kemudian, penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan partisipan yang paling rajin beraktivitas atau berolahraga berisiko 13 persen lebih rendah mengidap kanker.
Penurunan risiko ini tercatat lebih besar lagi -- sekitar 30 persen --ketika para ahli membandingkannya dengan para wanita yang berat badannya normal. "Hubungannya akan lebih kuat di antara wanita yang berbadan ramping," ungkap Leitzmann, yang juga bekerja di University Hospital, Regensburg, Jerman.
Yang menarik, jenis aktivitas yang tidak terlalu menguras tenaga seperti pekerjaan rumah yang ringan, berjalan kaki, hiking, tampaknya tidak terlalu signifikan memberikan efek perlindungan, kata peneliti yang memuat risetnya dalam jurnal BioMed Central's Breast Cancer Research.
Riset ini tidak menjelaskan mengapa olahraga dapat memberikan manfaat bagi pencegahan kanker, namun Leitzmann mencatat bahwa penelitian lain telah menujukkan bahwa bergerak aktif dapat menurunkan kadar estrogen s -- yang merupakan salah satu faktor risiko -- selain juga dapat memberikan proteksi terhadap sistem kekebalan secara umum.
AC
Sumber : Reuters-Kompas
Jumat, 31 Oktober 2008 | 11:34 WIB
Selasa, 18 Agustus 2009
Berpikir Positif Cegah Kanker Payudara
MERASA bahagia dan selalu berpikir positif adalah salah satu kunci penting dalam menjalani kehidupan. Dengan perasaan optimistis dan bahagia, risiko terserang berbagai penyakit pun dapat ditekan seminimal mungkin. Pentingnya perasaan positif dan bahagia tercermin dari sebuah riset belum lama ini yang dimuat BioMed Central journal BMC Cancer. Hasil riset mengindikasikan wanita yang bahagia dan berpikir positif cenderung berisiko lebih rendah mengidap penyakit kanker payudara.
Dr Ronit Peled dari Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, Israel, dalam hasil risetnya menyatakan bahwa kebahagiaan dan optimisme mampu menekan risiko kanker payudara pada wanita hingga 25 persen. Sedangkan pengalaman atau kejadian traumatis seperti perceraian atau kehilangan seseorang yang dicintai dapat memburuk risiko.
“Kami secara hati-hati dapat menyatakan bahwa mengalami satu atau lebih kejadian menyedihkan adalah sebuah faktor risiko kanker payudara pada wanita muda. Di lain pihak, perasaan akan bahagia dan optimisme dapat memberikan perlindungan. Wanita muda yang mengalami sejumlah pengalaman buruk dalam hidupnya dipertimbangkan sebagai kelompok yang berisiko kanker payudara dan oleh sebab itu harus ditangani,'' ungkap Ronit Peled.
Tetapi Peled menekankan bahwa hasil risetnya jangan diartikan bahwa rasa bahagia dan optimisme menjadi gerbang utama untuk terhindar dari penyakit kanker payudara. "Konsumsi makan yang baik dan aktif secara fisik merupakan faktor yang harus diperhitungkan," tambahnya.
Dr Peled dan timnya meneliti sejumlah faktor yang berkaitan dengan stres psikologis seperti kehilangan orangtua sebelum berusia 20 tahun dan kaitannya dengan risiko kanker.Peled melakukan penelitian ini dilatarbelakangi tingginya faktor risiko kanker payudara yang dialami wanita Israel. Lebih-lebih wanita Israel kerap kerap disebut kelompok dengan risiko tertinggi di dunia dalam hal kanker payudara.
Sebanyak 255 wanita usia 25 - 45 tahun yang terindikasi kanker paru dilibatkan bersama 367 wanita usia sama yang tidak mengalami kanker. Peled dan timnya menanyakan sejumlah hal kepada para wanita seperti pandangan akan masa depan dan pengalaman traumatis akibat penyakit, kehilangan pekerjaan, perceraian hingga kematian.
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara cara berpikir wanita dengan risiko mengidap kanker payudara. Mereka yang berpikir optimistis mencatat risiko 25 persen lebih rendah mengidap kanker. Sementra wanita yang mengalami dua atau tiga kejadian atau pengalaman traumatis mengalami peningkatan risiko sebesar 62 persen.
"Ditemukan bahwa perasaaan bahagia dan optimisme memberikan dampak protektif ," ujar peneliti .
AC, Sumber : Reuters - Kompas
Minggu, 14 September 2008 | 16:20 WIB
Senin, 17 Agustus 2009
Perempuan Waspadai Benjolan di Payudara Anda
KAUM perempuan perlu mewaspadai jika menemukan adanya benjolan pada bagian payudaranya. Sebab, benjolan itu bisa jadi salah satu gejala terjangkitnya kanker payudara. Untuk memastikan apakah benjolan itu merupakan tumor ganas atau tidak, maka penderita perlu segera memeriksakan diri dengan mammografi.
"Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara harus ditingkatkan melalui penyuluhan yang terus-menerus," kata Ahli bedah-onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Sutjipto, dalam diskusi terbatas, di Jakarta, Rabu (16/7).
Kanker payudara sebenarnya bisa disembuhkan jika terdeteksi sejak dini melalui pemeriksaan klinik dan mammografi. Kanker payudara merupakan keganasan yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kelompok usia penderita makin muda, bahkan ada yang berusia di bawah 30 tahun. Ini dipicu pola hidup yang tidak sehat seperti kegemaran merokok dan konsumsi makanan siap saji, ujarnya menambahkan .
Ada beberapa gejala penyakit ini yang bisa dikenali yaitu munculnya benjolan di payudara dan perubahan besar maupun bentuk payudara. Gejala lain adalah, keluar cairan yang tidak normal dari puting susu, cairan dapat berupa nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada ibu yang tidak hamil atau tidak sedang menyusui. Selain itu, kulit, puting susu dan areola melekuk ke dalam atau berkerut.
Semakin tinggi stadiumnya, maka ukuran benjolan akan semakin besar. Jika baru berupa benjolan dan belum menjalar ke organ tubuh lain, maka pengobatannya cukup dengan mengangkat benjolan itu sesegera mungkin sebelum makin membesar, kata Sutjipto. Jika sudah memasuki stadium empat, maka benjolan atau tumor ganas itu akan menjalar ke organ tubuh lain.
"Makin dini stadiumnya, peluang untuk sembuh atau tingkat harapan hidup juga makin besar," ujarnya. Pada tahap awal, kanker payudara tidak menimbulkan gejala apa pun, namun bersamaan dengan berkembangnya penyakit akan timbul gejala yang menyebabkan perubahan pada payudara. Untuk itu perlu ada pemeriksaan secara berkala baik dengan pemeriksaan payudara sendiri, pemeriksaan oleh tenaga medis maupun mammogram.
"Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara harus ditingkatkan melalui penyuluhan yang terus-menerus," kata Ahli bedah-onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Sutjipto, dalam diskusi terbatas, di Jakarta, Rabu (16/7).
Kanker payudara sebenarnya bisa disembuhkan jika terdeteksi sejak dini melalui pemeriksaan klinik dan mammografi. Kanker payudara merupakan keganasan yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kelompok usia penderita makin muda, bahkan ada yang berusia di bawah 30 tahun. Ini dipicu pola hidup yang tidak sehat seperti kegemaran merokok dan konsumsi makanan siap saji, ujarnya menambahkan .
Ada beberapa gejala penyakit ini yang bisa dikenali yaitu munculnya benjolan di payudara dan perubahan besar maupun bentuk payudara. Gejala lain adalah, keluar cairan yang tidak normal dari puting susu, cairan dapat berupa nanah, darah, cairan encer atau keluar air susu pada ibu yang tidak hamil atau tidak sedang menyusui. Selain itu, kulit, puting susu dan areola melekuk ke dalam atau berkerut.
Semakin tinggi stadiumnya, maka ukuran benjolan akan semakin besar. Jika baru berupa benjolan dan belum menjalar ke organ tubuh lain, maka pengobatannya cukup dengan mengangkat benjolan itu sesegera mungkin sebelum makin membesar, kata Sutjipto. Jika sudah memasuki stadium empat, maka benjolan atau tumor ganas itu akan menjalar ke organ tubuh lain.
"Makin dini stadiumnya, peluang untuk sembuh atau tingkat harapan hidup juga makin besar," ujarnya. Pada tahap awal, kanker payudara tidak menimbulkan gejala apa pun, namun bersamaan dengan berkembangnya penyakit akan timbul gejala yang menyebabkan perubahan pada payudara. Untuk itu perlu ada pemeriksaan secara berkala baik dengan pemeriksaan payudara sendiri, pemeriksaan oleh tenaga medis maupun mammogram.
Sumber : Kompas
Rabu, 16 Juli 2008 | 20:12 WIB
Jumat, 14 Agustus 2009
Risiko Kanker Prostat pada Pria
KOMPAS.com — Pola hidup dan lingkungan yang buruk meningkatkan risiko gangguan organ reproduksi pria. Bagaimana supaya tetap sehat?
Di kalangan pria, kanker prostat merupakan gangguan kesehatan yang patut diwaspadai. Prostat adalah kelenjar kelamin yang hanya terdapat pada pria. Fungsinya memproduksi sperma/mani dan menjaga sperma agar tetap hidup.
Kelenjar prostat berukuran sebesar biji walnut. Letaknya di bawah kandung kemih mengelilingi pangkal saluran kemih. Dalam menjalankan fungsinya, kelenjar prostat memerlukan hormon testoteron yang dihasilkan oleh buah zakar (testis).
Adapun kanker prostat merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Sel-sel kelenjar prostat tersebut berkembang secara abnormal tidak terkendali sehingga merusak jaringan di sekitarnya.
Kanker prostat jarang terjadi pada pria di bawah 40 tahun. Penderitanya paling banyak berusia di atas 50 tahun. Namun, bukan berarti pria usia muda tak perlu mewaspadainya. Asal tahu saja, kanker tersebut penyebarannya sangat lambat dan kebanyakan tak menimbulkan gejala.
Meski penyebabnya belum jelas, ditengarai ada beberapa kemungkinan faktor risiko munculnya kanker prostat. Di antaranya:
- Genetik
Risiko jadi semakin tinggi jika terbukti ada kerabat yang terdiagnosis kanker prostat. Jika ayah atau saudara laki-laki menderita kanker prostat, berarti risiko yang dihadapi cukup tinggi.
- Pola konsumsi
Dari berbagai riset diungkapkan, pola makan memengaruhi peningkatan kemungkinan seseorang dapat menderita kanker, apa pun jenisnya. Bahkan, para ahli gizi menyatakan, 80-90 persen kasus kanker berkaitan erat dengan makanan yang dikonsumsi. Berbagai penelitian mengatakan, risiko akan meningkat bila seseorang sehari-harinya mengonsumsi diet tinggi lemak.
- Gaya hidup
Merokok dan minum alkohol ditengarai menjadi pemicu munculnya kanker prostat. Selain itu, sering berganti-ganti pasangan juga membuka kesempatan terjadinya infeksi virus penyebab kanker yang ditularkan melalui hubungan kelamin.
- Lingkungan
Pekerja industri yang berkontak lama dengan logam kadmium (bahan pembuat batere), juga bahan-bahan kimia lain berisiko tinggi mengidap kanker prostat.
Pada tahap awal, kanker prostat biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi pada tahap selanjutnya sering timbul gejala/keluhan seperti:
1. Sering buang air kecil terutama di malam hari.
2. Buang air kecil harus mengejan.
3. Sulit menahan buang air kecil.
4. Tidak dapat buang air kecil sama sekali.
5. Buang air kecil terasa sakit/panas.
6. Ada darah dalam air seni dan air mani.
7. Terasa sakit saat berejakulasi.
8. Nyeri/kaki di daerah bokong, panggul, dan pangkal paha.
Di kalangan pria, kanker prostat merupakan gangguan kesehatan yang patut diwaspadai. Prostat adalah kelenjar kelamin yang hanya terdapat pada pria. Fungsinya memproduksi sperma/mani dan menjaga sperma agar tetap hidup.
Kelenjar prostat berukuran sebesar biji walnut. Letaknya di bawah kandung kemih mengelilingi pangkal saluran kemih. Dalam menjalankan fungsinya, kelenjar prostat memerlukan hormon testoteron yang dihasilkan oleh buah zakar (testis).
Adapun kanker prostat merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Sel-sel kelenjar prostat tersebut berkembang secara abnormal tidak terkendali sehingga merusak jaringan di sekitarnya.
Kanker prostat jarang terjadi pada pria di bawah 40 tahun. Penderitanya paling banyak berusia di atas 50 tahun. Namun, bukan berarti pria usia muda tak perlu mewaspadainya. Asal tahu saja, kanker tersebut penyebarannya sangat lambat dan kebanyakan tak menimbulkan gejala.
Meski penyebabnya belum jelas, ditengarai ada beberapa kemungkinan faktor risiko munculnya kanker prostat. Di antaranya:
- Genetik
Risiko jadi semakin tinggi jika terbukti ada kerabat yang terdiagnosis kanker prostat. Jika ayah atau saudara laki-laki menderita kanker prostat, berarti risiko yang dihadapi cukup tinggi.
- Pola konsumsi
Dari berbagai riset diungkapkan, pola makan memengaruhi peningkatan kemungkinan seseorang dapat menderita kanker, apa pun jenisnya. Bahkan, para ahli gizi menyatakan, 80-90 persen kasus kanker berkaitan erat dengan makanan yang dikonsumsi. Berbagai penelitian mengatakan, risiko akan meningkat bila seseorang sehari-harinya mengonsumsi diet tinggi lemak.
- Gaya hidup
Merokok dan minum alkohol ditengarai menjadi pemicu munculnya kanker prostat. Selain itu, sering berganti-ganti pasangan juga membuka kesempatan terjadinya infeksi virus penyebab kanker yang ditularkan melalui hubungan kelamin.
- Lingkungan
Pekerja industri yang berkontak lama dengan logam kadmium (bahan pembuat batere), juga bahan-bahan kimia lain berisiko tinggi mengidap kanker prostat.
Pada tahap awal, kanker prostat biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi pada tahap selanjutnya sering timbul gejala/keluhan seperti:
1. Sering buang air kecil terutama di malam hari.
2. Buang air kecil harus mengejan.
3. Sulit menahan buang air kecil.
4. Tidak dapat buang air kecil sama sekali.
5. Buang air kecil terasa sakit/panas.
6. Ada darah dalam air seni dan air mani.
7. Terasa sakit saat berejakulasi.
8. Nyeri/kaki di daerah bokong, panggul, dan pangkal paha.
Sumber : Kompas
Selasa, 4 Agustus 2009 | 09:40 WIB
Para Pria, Awas Gangguan Prostat Menanti Anda !
JAKARTA, KOMPAS.com - Mulai umur 50 tahun ke atas para pria mesti waspada. Pasalnya 4 dari 5 pria berumur 50 tahun berisiko mengalami gangguan prostat. Semakin bertambah umur, prevalensinya makin tinggi.
Demikian diungkap dr. Rachmat B. Santoso, Sp.U dari Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dharmais saat Penyuluhan Deteksi Dini Kanker Prostat di R.S. Dharmais, Jakarta, Selasa (12/5).
"Laki-laki bisa seperti itu karena kami mempunyai hormon testoteron yang dihasilkan oleh testis," kata dokter lulusan Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di dalam tubuh, hormon tersebut berubah menjadi dihydrotestosterone (DHT). Seiring bertambahnya usia, DHT akan semakin banyak, akibatnya prostat akan semakin membesar. Berat normal prostat adalah 20 gram, tapi kalau sudah membesar bisa mencapai 100 gram.
Ketika prostat membesar maka ia akan menjepit saluran uretra atau saluran kandung kemih yang melewati prostat menuju penis. Prostat sendiri letaknya di antara pangkal penis dan kandung kemih. "Jika sudah seperti ini, maka yang bersangkutan akan mengalami gangguan," ungkap Rachmat.
Gangguan yang dimaksud antara lain sulit pipis (pipis harus nunggu dulu 1 - 2 menit baru bisa mulai pipis), sering pipis (dalam sehari bisa 6-7 kali), saat tidur malam kerap terbangun untuk pipis (frekuensi di atas 2 kali), kalau terasa mau pipis harus segera ke kamar mandi karena bisa mengompol, alami terminal dribbing atau pipis di celana duluan, pancaran kencing melemah (tidak jauh lagi), dan air kencing mengandung darah meski tampak bening.
Akibatnya para pria ini akan merasa sakit tiap kali pipis, mengalami infeksi saluran kemih karena ada sisa kemih yang tertinggal akibat terjepitnya uretra, timbul batu (air kemih yang tertahan akan ciptakan residu yang lambat laun akan memadat dan mengeras) dan jika tersumbatnya uretra menjadi kronis ginjal akan membengkak. Akibatnya timbul gagal ginjal.
Menurut Rachmat, kalau sudah seperti itu perlu ada tindakan penanganan. Penanganan pertama adalah dengan cara pengobatan. Obat yang diberikan adalah a-blockers untuk membuat otot prostat yang membesar rileks. Obat lainnya adalah a-reductase inhibitors untuk mengurangi volume prostat. "Pengobatan ini dilakukan selama 6 bulan - 1 tahun secara berturut-turut," katanya.
Jika pengobatan tidak mempan, tambahnya, maka dilakukan endoskopi untuk meresesi prostat sehingga tidak lagi menjepit saluran uretra atau saluran kandung kemih.
Tetapi jika gangguan prostat sudah sangat parah, maka yang mesti dilakukan adalah mengoperasi prostat. "Ini sangat berisiko karena bisa mengakibatkan impotensi," tegas Rachmat memperingatkan.
Fungsi prostat sendiri, ia melanjutkan, adalah membantu memproduksi cairan semen untuk memudahkan sel sprema bergerak menuju indung telur.
Demikian diungkap dr. Rachmat B. Santoso, Sp.U dari Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dharmais saat Penyuluhan Deteksi Dini Kanker Prostat di R.S. Dharmais, Jakarta, Selasa (12/5).
"Laki-laki bisa seperti itu karena kami mempunyai hormon testoteron yang dihasilkan oleh testis," kata dokter lulusan Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di dalam tubuh, hormon tersebut berubah menjadi dihydrotestosterone (DHT). Seiring bertambahnya usia, DHT akan semakin banyak, akibatnya prostat akan semakin membesar. Berat normal prostat adalah 20 gram, tapi kalau sudah membesar bisa mencapai 100 gram.
Ketika prostat membesar maka ia akan menjepit saluran uretra atau saluran kandung kemih yang melewati prostat menuju penis. Prostat sendiri letaknya di antara pangkal penis dan kandung kemih. "Jika sudah seperti ini, maka yang bersangkutan akan mengalami gangguan," ungkap Rachmat.
Gangguan yang dimaksud antara lain sulit pipis (pipis harus nunggu dulu 1 - 2 menit baru bisa mulai pipis), sering pipis (dalam sehari bisa 6-7 kali), saat tidur malam kerap terbangun untuk pipis (frekuensi di atas 2 kali), kalau terasa mau pipis harus segera ke kamar mandi karena bisa mengompol, alami terminal dribbing atau pipis di celana duluan, pancaran kencing melemah (tidak jauh lagi), dan air kencing mengandung darah meski tampak bening.
Akibatnya para pria ini akan merasa sakit tiap kali pipis, mengalami infeksi saluran kemih karena ada sisa kemih yang tertinggal akibat terjepitnya uretra, timbul batu (air kemih yang tertahan akan ciptakan residu yang lambat laun akan memadat dan mengeras) dan jika tersumbatnya uretra menjadi kronis ginjal akan membengkak. Akibatnya timbul gagal ginjal.
Menurut Rachmat, kalau sudah seperti itu perlu ada tindakan penanganan. Penanganan pertama adalah dengan cara pengobatan. Obat yang diberikan adalah a-blockers untuk membuat otot prostat yang membesar rileks. Obat lainnya adalah a-reductase inhibitors untuk mengurangi volume prostat. "Pengobatan ini dilakukan selama 6 bulan - 1 tahun secara berturut-turut," katanya.
Jika pengobatan tidak mempan, tambahnya, maka dilakukan endoskopi untuk meresesi prostat sehingga tidak lagi menjepit saluran uretra atau saluran kandung kemih.
Tetapi jika gangguan prostat sudah sangat parah, maka yang mesti dilakukan adalah mengoperasi prostat. "Ini sangat berisiko karena bisa mengakibatkan impotensi," tegas Rachmat memperingatkan.
Fungsi prostat sendiri, ia melanjutkan, adalah membantu memproduksi cairan semen untuk memudahkan sel sprema bergerak menuju indung telur.
ONE - Sumber Kompas
Selasa, 12 Mei 2009 | 20:33 WIB
Kamis, 13 Agustus 2009
Coba Jahe untuk Terapi Kanker
JAHE dapat digunakan untuk membunuh sel kanker ovarium sementara komponen yang terdapat pada cabai diduga dapat mengecilkan atau menyusutkan tumor pankreas. Demikian kata Dr. Rebecca Liu, asisten profesor pada bidang obstetri and ginekologi di Universitas Michigan Comprehensive Cancer Center, AS, dan timnya, yang melakukan tes terhadap bubuk jahe yang dilarutkan dan diberikan pada kultur sel kanker ovarium.
Hasil studi itu menyebutkan bahwa terdapat bukti berbagai makanan pedas atau panas bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kanker. Studi itu meneliti efektivitas jahe terhadap sel penderita kanker. Meskipun demikian, studi ini masih merupakan langkah pertama.
Dikatakan, jahe dapat membunuh sel kanker dengan dua jalan, yaitu proses penghancuran yang dinamakan apoptosis dan autophagy, proses pemakanan sel. Hal ini diuraikan para ahli dalam pertemuan American Association for Cancer Research.
Menurut Dr. Rebecca, banyak penderita kanker yang mengalami resistensi terhadap kemoterapi standar, di mana tindakan kemoterapi merupakan proses apoptosis. Sementara jahe yang memiliki kemampuan memakan sel (autophagy) dapat membantu mereka yang mengalami resistensi terhadap kemoterapi.
American Cancer Society melaporkan kanker ovarium membunuh 16.000 dari 22.000 wanita AS. Jahe terbukti dapat mengontrol keadaan inflamasi, yang berhubungan dengan perkembangan sel kanker ovarium.
Dalam penelitian lain menggunakan tikus yang diberikan capsaicin (salah satu kandungan pada cabai), Sanjay Srivastava dari Universitas Pittsburgh School of Medicine, AS, mendapati bahwa capsaicin ternyata dapat mematikan sel kanker pankreas. Capsaicin membuat sel-sel kanker mati dan memiliki kemampuan memperkecil ukuran tumor.
Hasil studi itu menyebutkan bahwa terdapat bukti berbagai makanan pedas atau panas bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kanker. Studi itu meneliti efektivitas jahe terhadap sel penderita kanker. Meskipun demikian, studi ini masih merupakan langkah pertama.
Dikatakan, jahe dapat membunuh sel kanker dengan dua jalan, yaitu proses penghancuran yang dinamakan apoptosis dan autophagy, proses pemakanan sel. Hal ini diuraikan para ahli dalam pertemuan American Association for Cancer Research.
Menurut Dr. Rebecca, banyak penderita kanker yang mengalami resistensi terhadap kemoterapi standar, di mana tindakan kemoterapi merupakan proses apoptosis. Sementara jahe yang memiliki kemampuan memakan sel (autophagy) dapat membantu mereka yang mengalami resistensi terhadap kemoterapi.
American Cancer Society melaporkan kanker ovarium membunuh 16.000 dari 22.000 wanita AS. Jahe terbukti dapat mengontrol keadaan inflamasi, yang berhubungan dengan perkembangan sel kanker ovarium.
Dalam penelitian lain menggunakan tikus yang diberikan capsaicin (salah satu kandungan pada cabai), Sanjay Srivastava dari Universitas Pittsburgh School of Medicine, AS, mendapati bahwa capsaicin ternyata dapat mematikan sel kanker pankreas. Capsaicin membuat sel-sel kanker mati dan memiliki kemampuan memperkecil ukuran tumor.
Hendra Priantono
Sumber : Kompas
Sabtu, 26 Januari 2008 | 15:44 WIB
Sabtu, 08 Agustus 2009
Tangkal Kanker Prostat dengan Brocoli
MENGONSUMSI sayuran hijau seperti brokoli bukan saja memberi nutrisi dan vitamin penting bagi tubuh Anda. Kebiasaan memakan beberapa porsi brokoli setiap minggu ternyata dapat melindungi pria dari kenker prostat.
Seperti dilaporkan ilmuwan dari Inggris, Rabu (2/7), brokoli berpotensi besar menjadi makanan pencegah kanker karena kandungan alaminya memiliki mekanisme unik melawan kanker.
Richard Mithen, ahli biologi dari Institute of Food Research, menjelaskan, senyawa dalam brokoli dapat memicu perubahan genetik dalam tubuh hingga mencapai ratusan. Selain itu, zat-zat dalam brokoli juga mengaktifkan gen-gen yang mampu melawan kanker serta menonaktikan gen-gen yang menyuplai perkembangan tumor.
Sebelumnya memang banyak sekali bukti penelitian yang mendukung pentingnya diet buah dan sayuran untuk menekan risiko kanker. Namun, Mithen mengklaim bahwa risetnya, yang juga dipublikasi dalam Public Library of Science journal PLoS One, adalah penelitian pertama pada manusia yang menyelidiki potensi dan proses mekanismenya secara biologis. "Setiap orang menyarankan untuk mengonsumsi sayuran, tetapi tak satu pun yang bisa menjelaskan mengapa. Penelitian kami mampu menjelaskan mengapa sayuran sangat baik," ungkap Mithen yang memimpin riset ini.
Kanker prostat kini tercatat sebagai penyakit pembunuh kedua tertinggi pada pria setelah kanker paru-paru. Setiap tahun, sekitar 680.000 pria di seluruh dunia didiagnosa menderita penyakit ini dan sekitar 220.000 di antaranya meninggal.
Dalam risetnya, Mithen beserta timnya melibatkan puluhan pria yang mengidap lesi prakanker yang berisiko menjadi kanker prostat. Partisipan dibagi dalam dua kelompok, yakni yang mendapat asupan brokoli dan grup kacang polong. Setiap minggu selama satu tahun kelompok ini diberi empat porsi makanan ekstra brokoli atau kacang polong.
Para ahli juga mengambil contoh jaringan selama berjalannya penelitian dan mereka menemukan bahwa pria yang makan brokoli menunjukkan perubahan gen yang berperan penting dalam melawan kanker. Menurut peneliti, manfaat yang sama juga kemungkinan akan didapat dari sayuran dari jenis Cruciferae atau Brassicaceae yang mengandung senyawa isothiocyanate, seperti kubis kailan, kembang kol, kubis, arugula, selada air, dan horse radish (sejenis lobak).
Namun begitu, lanjut Mithen, brokoli memiliki sejenis bahan khusus yang sangat kuat bernama sulforaphane, yang diyakini membuat sayuran-sayuran hijau memiliki senjata ekstra penangkal kanker. "Ketika orang mengidap kanker, sejumlah gen dinonaktifkan dan beberapa lain diaktifkan. Apa yang dilakukan oleh senyawa dalam brokoli tampaknya mengaktifkan gen-gen yang mencegah pertumbuhan kanker dan mematikan gel lainnya yang membuat tumor menyebar," papar Mithen.
Ia menambahkan, pemakan brokoli menunjukkan 400 hingga 500 perubahan genetik positif dalam tubuhnya, di mana pria yang memiliki sejenis gen bernama GSTM1 mendapatkan manfaat maksimal dari brokoli. Tercatat setengah dari seluruh populasi membawa gen jenis ini.
Peneliti memang tidak memantau lebih jauh para partisipan untuk mengetahui siapa yang akhirnya menderita kanker. Namun, penemuan ini mendukung ide bahwa dengan mengonsumsi
lebih banyak sayuran setiap minggu dapat memberikan perubahan besar bagi kesehatan.
Mithen mengindikasikan bahwa senyawa penting dalam sayuran ini juga kemungkinan besar akan memberi faedah yang sama bagi bagian organ lainnya dan bahkan dapat melindungi dari berbagai jenis kanker. "Anda tidak perlu mengubah diet, hanya butuh lebih banyak porsi sayuran untuk membuat perubahan besar," tegasnya.
Seperti dilaporkan ilmuwan dari Inggris, Rabu (2/7), brokoli berpotensi besar menjadi makanan pencegah kanker karena kandungan alaminya memiliki mekanisme unik melawan kanker.
Richard Mithen, ahli biologi dari Institute of Food Research, menjelaskan, senyawa dalam brokoli dapat memicu perubahan genetik dalam tubuh hingga mencapai ratusan. Selain itu, zat-zat dalam brokoli juga mengaktifkan gen-gen yang mampu melawan kanker serta menonaktikan gen-gen yang menyuplai perkembangan tumor.
Sebelumnya memang banyak sekali bukti penelitian yang mendukung pentingnya diet buah dan sayuran untuk menekan risiko kanker. Namun, Mithen mengklaim bahwa risetnya, yang juga dipublikasi dalam Public Library of Science journal PLoS One, adalah penelitian pertama pada manusia yang menyelidiki potensi dan proses mekanismenya secara biologis. "Setiap orang menyarankan untuk mengonsumsi sayuran, tetapi tak satu pun yang bisa menjelaskan mengapa. Penelitian kami mampu menjelaskan mengapa sayuran sangat baik," ungkap Mithen yang memimpin riset ini.
Kanker prostat kini tercatat sebagai penyakit pembunuh kedua tertinggi pada pria setelah kanker paru-paru. Setiap tahun, sekitar 680.000 pria di seluruh dunia didiagnosa menderita penyakit ini dan sekitar 220.000 di antaranya meninggal.
Dalam risetnya, Mithen beserta timnya melibatkan puluhan pria yang mengidap lesi prakanker yang berisiko menjadi kanker prostat. Partisipan dibagi dalam dua kelompok, yakni yang mendapat asupan brokoli dan grup kacang polong. Setiap minggu selama satu tahun kelompok ini diberi empat porsi makanan ekstra brokoli atau kacang polong.
Para ahli juga mengambil contoh jaringan selama berjalannya penelitian dan mereka menemukan bahwa pria yang makan brokoli menunjukkan perubahan gen yang berperan penting dalam melawan kanker. Menurut peneliti, manfaat yang sama juga kemungkinan akan didapat dari sayuran dari jenis Cruciferae atau Brassicaceae yang mengandung senyawa isothiocyanate, seperti kubis kailan, kembang kol, kubis, arugula, selada air, dan horse radish (sejenis lobak).
Namun begitu, lanjut Mithen, brokoli memiliki sejenis bahan khusus yang sangat kuat bernama sulforaphane, yang diyakini membuat sayuran-sayuran hijau memiliki senjata ekstra penangkal kanker. "Ketika orang mengidap kanker, sejumlah gen dinonaktifkan dan beberapa lain diaktifkan. Apa yang dilakukan oleh senyawa dalam brokoli tampaknya mengaktifkan gen-gen yang mencegah pertumbuhan kanker dan mematikan gel lainnya yang membuat tumor menyebar," papar Mithen.
Ia menambahkan, pemakan brokoli menunjukkan 400 hingga 500 perubahan genetik positif dalam tubuhnya, di mana pria yang memiliki sejenis gen bernama GSTM1 mendapatkan manfaat maksimal dari brokoli. Tercatat setengah dari seluruh populasi membawa gen jenis ini.
Peneliti memang tidak memantau lebih jauh para partisipan untuk mengetahui siapa yang akhirnya menderita kanker. Namun, penemuan ini mendukung ide bahwa dengan mengonsumsi
lebih banyak sayuran setiap minggu dapat memberikan perubahan besar bagi kesehatan.
Mithen mengindikasikan bahwa senyawa penting dalam sayuran ini juga kemungkinan besar akan memberi faedah yang sama bagi bagian organ lainnya dan bahkan dapat melindungi dari berbagai jenis kanker. "Anda tidak perlu mengubah diet, hanya butuh lebih banyak porsi sayuran untuk membuat perubahan besar," tegasnya.
AC
Sumber : Reuters ; Kompas
Rabu, 2 Juli 2008 | 11:16 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)